Buku Harian

psikologi pengarsipan diri sendiri dari Anne Frank hingga Marcus Aurelius

Buku Harian
I

Mari kita jujur sebentar. Waktu kecil atau remaja, seberapa banyak dari kita yang pernah punya buku harian? Biasanya buku itu tebal, berwarna-warni, dan lengkap dengan gembok kecil yang kuncinya sangat mudah hilang. Kita menulis tentang cinta monyet, guru matematika yang menyebalkan, atau betapa tidak adilnya dunia ini. Lalu kita tumbuh dewasa. Kita mulai sibuk bekerja. Kita berhenti menulis karena merasa buku harian itu kekanak-kanakan atau buang-buang waktu. Tapi, bagaimana kalau selama ini kita salah sangka? Bagaimana kalau buku harian sebenarnya bukan sekadar tempat mengeluh, melainkan salah satu teknologi psikologis paling canggih yang pernah diciptakan manusia? Di era digital ini, menulis untuk diri sendiri terdengar seperti pekerjaan sia-sia karena kita dituntut untuk selalu "tampil" di depan publik. Tapi, rahasia kecil inilah yang membuat seorang kaisar agung dan seorang gadis di ruang rahasia bisa bertahan dari kerasnya sejarah.

II

Mari kita putar waktu jauh ke belakang. Tahun 170-an Masehi. Di sebuah tenda militer yang sangat dingin, Kaisar Romawi Marcus Aurelius duduk sendirian. Dia adalah orang paling berkuasa di muka bumi, tapi pikirannya penuh dengan kecemasan, pengkhianatan, dan beban negara. Untuk menenangkan diri, dia menulis catatan-catatan pendek. Dia tidak menulis untuk dibaca rakyatnya. Dia menulis murni untuk dirinya sendiri. Kumpulan tulisan itu kini kita kenal sebagai mahakarya filosofi bernama Meditations. Sekarang, mari kita melompat ke tahun 1942, di sebuah loteng sempit di kota Amsterdam. Seorang remaja bernama Anne Frank bersembunyi dari kejaran pasukan Nazi. Di tengah teror yang tidak terbayangkan, dia melakukan hal yang persis sama dengan sang kaisar: dia menulis buku harian. Marcus dan Anne terpisah ribuan tahun, beda kasta, beda usia. Namun, di saat krisis yang mengancam kewarasan, insting mereka membawa mereka pada satu solusi purba. Mengarsipkan pikiran sendiri. Ada sesuatu yang sangat menarik di sini. Apa yang sebenarnya dicari oleh otak mereka saat tangan mulai mencoret-coret kertas? Mengapa menuangkan isi kepala ke benda mati bisa membuat manusia bertahan hidup secara mental?

III

Tentu, kita bisa saja merangkumnya dengan berkata bahwa menulis itu "melegakan". Tapi penjelasan klise itu terlalu sederhana untuk sains. Sains menuntut kita melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam tempurung kepala. Saat kita merasa stres, sedih, atau marah, bagian otak kita yang bernama amygdala sedang menyala terang seperti alarm kebakaran. Ini adalah pusat emosi primitif dan rasa takut. Di saat yang sama, pikiran kita sering kali berputar-putar tanpa henti. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai rumination atau merumput—mengunyah masalah yang sama berkali-kali tanpa pernah menemukan solusi. Coba teman-teman bayangkan isi kepala kita itu seperti lemari pakaian yang berantakan. Baju kotor, baju bersih, dan kaus kaki bercampur aduk. Kita tahu kita harus merapikannya, tapi rasanya terlalu melelahkan untuk sekadar melihatnya. Di titik inilah buku harian seharusnya masuk. Tapi pertanyaannya, apakah sekadar memuntahkan emosi ke atas kertas benar-benar efektif? Karena beberapa penelitian awal justru menunjukkan bahwa venting (meluapkan amarah begitu saja) justru bisa bikin kita makin marah. Lalu, apa bedanya venting sembarangan dengan pengarsipan diri yang elegan ala Marcus Aurelius dan Anne Frank? Rahasianya ternyata bersembunyi pada sebuah mekanisme neurologis yang sangat presisi.

IV

Inilah fakta ilmiah yang sangat memukau. Rahasianya terletak pada sebuah proses yang oleh para ilmuwan kognitif disebut sebagai affect labeling atau memberi nama pada emosi. Saat kita menulis buku harian secara sadar, kita dipaksa untuk memperlambat pikiran. Kita harus mengubah bentuk emosi yang tadinya abstrak menjadi kata-kata yang konkret dan berstruktur. Coba perhatikan perbedaannya. Merasakan dada sesak karena cemas itu satu hal. Tapi menuliskan kalimat "Saya merasa sangat cemas hari ini karena takut gagal dalam presentasi besok" adalah hal yang sama sekali berbeda secara neurologis. Saat kita menyusun kalimat, kita sedang memindahkan aliran darah dan aktivitas listrik dari amygdala (pusat kepanikan) menuju prefrontal cortex (pusat logika, rasio, dan penyelesaian masalah). Kita secara harfiah mematikan alarm kebakaran dan mulai membaca peta evakuasi. Buku harian berfungsi sebagai hard drive eksternal bagi otak kita. Dengan menaruh kekacauan itu di luar tubuh kita—di atas kertas—kita menciptakan jarak psikologis. Dr. James Pennebaker, seorang pionir dalam terapi menulis, membuktikan bahwa menulis ekspresif secara rutin tidak hanya menurunkan tingkat depresi. Secara biologis, kebiasaan ini meningkatkan fungsi sistem imun. Sel darah putih kita bekerja lebih efisien hanya karena kita rajin mengobrol dengan diri sendiri di atas kertas. Menulis jurnal mengubah trauma menjadi narasi, dan narasi selalu jauh lebih mudah dikendalikan oleh otak daripada emosi liar yang tak bernama.

V

Jadi, teman-teman, mari kita renungkan sejenak. Di dunia modern ini, kita sangat pandai mengarsipkan apa yang kita makan, ke mana kita liburan, dan dengan siapa kita berfoto. Kita mengarsipkannya dengan cantik untuk dilihat ribuan mata di internet. Tapi kita sering lupa mengarsipkan satu hal yang paling penting: percakapan jujur dengan diri kita sendiri yang sedang tumbuh, kadang lelah, dan terus bertahan. Kita tentu tidak perlu menjadi kaisar Romawi yang sedang memimpin perang besar. Kita juga tidak sedang bersembunyi dari kekejaman fasis di ruang rahasia. Tapi kita semua punya perang kecil-kecilan di dalam kepala kita setiap harinya. Entah itu kecemasan soal karir, patah hati, krisis identitas, atau sekadar rasa sepi yang tiba-tiba datang menampar di malam hari. Mungkin sudah saatnya kita membeli buku tulis kecil lagi. Tidak perlu gembok kali ini. Tidak perlu peduli dengan tata bahasa yang sempurna. Cukup siapkan sebuah pulpen, secarik kertas, dan sedikit keberanian untuk bertemu dengan diri kita sendiri yang paling otentik. Lagipula, jika selembar kertas bisa menyelamatkan kewarasan di tengah perang dunia dan runtuhnya kekaisaran, bayangkan keajaiban apa yang bisa ia lakukan untuk hari Senin kita yang sangat melelahkan.